(Robert Pettersen)
Anak perempuan ini berumur eman tahun ketika saya pertama kali menemuinya di tepi pantai dekat tempat tinggal saya.
Pantai ini berjarak sekitar empat mil dari rumah saya.
Dia sedang membuat sesuatu seperti istana pasir dan kemudian melihat saya, matanya biru seperti laut.
“Hai”, katanya.
Saya menjawab acuh tak acuh, hati saya sedang tidak enak dan tidak mau diganggu oleh seorang anak kecil.
“Aku sedang membangun,” katanya.
“Saya tahu. Apa itu ?” saya bertanya sekedarnya, tidak peduli.
“Oh, tidak tahu, aku cuma senang main pasir.”
Kelihatannya baik, saya berpikir, kemudian melepaskan sepatu saya.
Seekor burung laut terbang melintas.
“Itu kebahagiaan”
“Itu apa?”
“Itu kebahagiaan. Mama berkata burung laut membawa kebahagiaan untuk kita”
Burung itu terbang menjauhi pantai.
“Selamat tinggal kebahagiaan,” saya bergumam kepada diri sendiri, “Halo kepedihan,” dan berbalik untuk meneruskan perjalanan.
Saya sedang depresi; hidup saya kelihatannya benar-benar kacau.
“Siapa namamu?” anak itu tidak menyerah.
“Robert,” saya menjawab. “Saya Robert Peterson.”
“Namaku Wendy ? aku umur enam.”
“Hai, Wendy.”
Dia tertawa geli. “Kamu lucu,” katanya.
Dengan mengabaikan perasaan saya, saya ikut tertawa dan kemudian berjalan pergi.
Irama tertawa geli anak itu mengikuti saya.
“Datang lagi ya, Pak Peter” dia memanggil.
“Kita masih punya hari menyenangkan yang lain.”
Hari dan minggu-minggu berikut bukan milik saya: sekelompok anak yang tidak dapat diatur, pertemuan orang-tua dan guru, ibu yang sakit. Matahari bersinar cerah ketika suatu pagi saya sedang mencuci tangan.
“Saya butuh burung laut”, saya berkata kepada diri sendiri, sambil mengambil jaket.
Suasana pantai sedang menunggu. Angin terasa dingin, tapi saya terus melanjutkan, mencoba untuk memperoleh kedamaian yang saya butuhkan. Saya sudah melupakan anak kecil itu dan terkejut ketika menjumpai dia.
“Halo pak Peter,” dia berkata.
“Mau main ?”
“Kamu mau main apa sih ?” saya berkata dengan sedikit terganggu.
“Aku tidak tahu? Terserah.”
“Bagaimana kalau kita main pura-pura?” saya bertanya dengan kasar.
Suara tertawa terdengar lagi.
“Aku tak tahu apa itu.”
“Kalau begitu kita jalan saja.”
Sambil memandangnya, saya mengenali wajah lembutnya yang tulus.
“Kamu tinggal dimana?” saya bertanya.
“Di sana.” Dia menunjuk ke barisan cottage untuk musim panas di depan.
Aneh, saya berpikir, ini musim dingin.
“Kamu sekolah dimana?”
“Aku tidak sekolah. Mama bilang kita sedang liburan”
Dia berceloteh seperti layaknya seorang anak perempuan kecil sepanjang perjalanan menyusur pantai, tapi saya sedang memikirkan hal yang lain. Wendy berkata bahwa ia menikmati hari menyenangkan. Aneh, sekarang saya merasa lebih baik, saya tersenyum padanya dan menyetujuinya.
Tiga minggu berikut, saya terburu-buru pergi ke pantai dalam keadaan yang boleh dibilang panik. Saya sama sekali sedang tidak ‘in the mood’ sekalipun hanya untuk memberi salam kepada Wendy.
“Lihat, kalau kamu tidak berkeberatan,” saya berkata dengan gusar ketika Wendy menangkap saya, “Saya ingin sendirian hari ini.”
Dia kelihatannya lebih pucat dari biasanya dan tampak kelelahan.
“Kenapa ?” dia bertanya.
Saya berbalik kepadanya dan berteriak, “Karena ibu saya meninggal !!!” dan tersentak sendiri, ya Tuhan, kenapa saya berkata seperti ini kepada seorang anak kecil?
“Oh,” dia berkata perlahan, “Kalau begitu ini hari buruk.”
“Ya,” kata saya, “Dan kemarin dan kemarin lagi dan? ah semuanya sudah berlalu!”
“Apa kamu sedih?” anak ini terus bertanya.
“Sedih?” saya kecewa terhadapnya dan terhadap diri saya sendiri.
“Kapan dia meninggal ?”
“Tentu saja itu menyedihkan !!!!” saya berseru, salah mengerti, perasaan saya campur aduk dalam diri saya.
Saya pergi meninggalkannya begitu saja.
Satu bulan setelah itu, ketika saya datang lagi ke pantai itu, Wendy, anak perempuan kecil itu tidak ada di sana.
Dengan merasa bersalah, malu dan harus mengakui bahwa sebenarnya saya kehilangan dia, saya pergi ke cottage setelah berjalan-jalan dan mengetuk pintu.
Seorang wanita muda yang menarik perhatian dengan rambut berwarna kuning-madu membuka pintu.
“Halo,” saya berkata. “Saya Robert Peterson. Saya kehilangan anak perempuan kecilmu dan ingin tahu dimana dia sekarang.”
“Oh ya, Pak Peterson, silahkan masuk. Wendy banyak bercerita tentang dirimu. Saya khawatir kalau saya telah membiarkannya mengganggumu. Kalau dia telah sudah mengganggu, terimalah permohonan maaf saya.”
“Tidak juga - dia anak yang menyenangkan,” saya berkata, tiba-tiba saya menyadari bahwa benarlah demikian adanya.
“Dimana dia?”
“Wendy meninggal minggu lalu, Pak Peterson. Dia menderita leukemia. Mungkin dia belum memberitahu anda.”
Seperti dipukul, saya segera mencari pegangan pada kursi. Napas saya seperti berhenti.
“Dia suka sekali pantai ini; maka ketika dia meminta untuk datang ke tempat ini, kami tidak dapat menolaknya. Dia kelihatannya menjadi lebih baik disini dan mempunyai banyak hari yang disebutnya sebagai hari menyenangkan. Tetapi minggu-minggu terakhir, kondisinya menurun dengan cepat?” suaranya melemah,
“Dia meninggalkan sesuatu untukmu. Kalau saja saya dapat menemukannya. Dapatkah anda menunggu sebentar sementara saya mencari?”
Saya mengangguk, pikiran saya bekerja keras mencari sesuatu, apa saja, untuk diucapkan kepada wanita muda terkasih ini.
Dia memberikan saya sebuah amplop agak kotor, dengan tulisan tebal Pak Peter, tulisan anak-anak.
Didalamnya ada sebuah gambar dibuat dari krayon cerah - gambar satu pantai bewarna kuning, laut biru, dan seekor burung coklat.
Dibawahnya tertulis dengan rapi : BURUNG LAUT MEMBAWA KEBAHAGIAAN UNTUK KAMU
Mata saya terasa basah, dan satu bagian hati yang hampir terlupakan selama ini terbuka lebar untuk mengasihi. Saya menggenggam tengan ibu Wendy.
“Saya sangat menyesal, saya menyesal, saya menyesal, ” saya menggumamkannya berkali-kali dan kita menangis bersama.
Gambar kecil yang sangat berharga itu sekarang diberi bingkai dan digantung di kamar belajar saya.
Enam kata - satu untuk setiap tahun kehidupannya - telah berbicara kepada saya tentang harmoni, kekuatan, kasih yang tidak menuntut.
Hadiah dari seorang ank kecil dengan mata biru dan rambut pasir telah mengajar saya arti pemberian kasih.
http://www.facebook.com/group.php?gid=132740644586
Minggu, 29 November 2009
DITINGGAL OLEH SAHABAT
Hampir tiap orang di dunia ini pernah mempunyai seorang sahabat karib, entah pada saat kita masih kecil maupun saat sekarang ini.
Bagaimana kalau Anda di tinggal mati oleh sahabat karib Anda?
Tempat dimana Anda bisa berbagi suka maupun duka.
Hal inilah yg terjadi pada saat ini dengan diri saya, sobat karib saya, Ben kemarin telah meninggal dunia dalam usia 46 th, karena penyakit kanker.
Hal ini mengingatkan kembali ketika saya di tinggal mati oleh si Udin.
Sejak usia 2 th saya telah di tinggal ayah, karena ia ditawan oleh tentara Jepang. Ibu harus berkerja keras untuk bisa membiayai hidup anak-anaknya.
Ibu sering melakukan puasa, karena tidak cukup makanan dirumah, bahkan kamipun sering tidur dengan perut lapar.
Hal inilah yg mendorong saya untuk minggat dari rumah, karena ingin meringankan bebannya Ibu. Padahal waktu itu usia saya baru 6 th dengan rasa berat hati dan air mata terlinang saya berangkat meninggakan kampung halaman dengan tujuan pergi ke kota besar Bandung, karena ingin mencoba mencari nafkah sendiri
Saya berangkat berdua dengan sobat karib saya si Udin yg usianya 3 th lebih tua daripada saya. Ber-jam-jam kami berjalan kaki seharian tanpa makan, sedangkan uang tidak kami miliki, satu-satunya harta yang kami miliki ialah sehelai baju yang melekat dibadan kami.
Karena sudah tidak tertahankan lagi, saya mengusulkan kepada si Udin untuk mencuri buah-buahan di kebun orang, tetapi si Udin walaupun ia anak yatim, ia sangat taat sekali kepada agama, ia melarang saya untuk mencuri, ia bilang lebih baik kita mengemis daripada mencuri.
Kami melewati satu gedung besar, dan kami berpikir disinilah kita bisa mengemis untuk memohon sesuap nasi, tetapi belum saja kami bisa masuk ke halaman rumah, kami telah dikejar oleh anjing sipemilik rumah, kami lari terbirit-birit, tetapi dengan kaki yg masih kecil, saya belum bisa berlari cepat, sehingga saya jatuh tersungkur dan anjing menggigit saya. Akhirnya si Udin datang melindungi dan menghalau anjing tersebut.
Hujan telah turun dgn deras, badan kami menggigil kedinginan, karena telah tak tertahankan lagi, kami mencari makan di tempat sampah, ternyata disitu masih ada sisa sepotong roti kecil, dan beberapa genggam nasi.
Karena badan saya telah lemah lunglai apalagi telah digigit anjing, si Udin memberikan roti maupun nasi tersebut semuanya untuk saya, makanlah ia bilang, karena saya lagi puasa, walaupun kenyataannya tidaklah demikian, tetapi ia mengikhlaskannya untuk saya.
Malam hari itu kami tidur di emperan rumah orang, tepatnya di depan sebuah kelenteng. Malam-malam saya terbangun, karena saya mendengar si Udin mengeluh kesakitan, badannya menggigil, tak satu katapun bisa ia ucapkan tetapi matanya kelihatan sayu.
Saya mengetahui ia sakit, karena lapar, ia sudah tidak makan sejak lebih dari dua hari, dan bagian makanannya selalu diberikan kepada saya, sehingga badannya menjadi sedemikian lemahnya.
Dari luar kelenteng masih kelihatan cahaya api lilin remang-remang diatas meja sesajen, tanpa pikir panjang saya memanjat pagar dan pintu kelenteng untuk bisa masuk ke dalam, akhirnya saya berhasil mencuri sesajen berupa dua potong kueh. Saya berlari kepada si Udin cepat-cepat untuk memberikannya kepada dia, karena saya merasa takut sekali kehilangan dia.
Ketika saya tiba, saya berusaha memeluk badannya si Udin yang gemetaran dan mencoba menyuapkan kueh ke dalam mulutnya, tetapi rupanya telah terlambat. Sang Pencipta telah memanggil dia balik kepangkuan-Nya.
Apakah Anda bisa membayangkan betapa perasaan seorang bocah berusia 6 th yang di tinggal mati oleh kawan dan sobat satu-satunya yg pada saat itu tidak memiliki siapapun juga, karena jauh dari kampung halaman?
Bagaimana perasaan Anda apabila sobat karib Anda meninggal dalam pelukan tangan Anda?
Dibawah hujan rintik-rintik dengan badan menggigil kedinginan, saya menangis terseduh-seduh. Saya mendekap badannya si Udin erat-erat dan dengan suara tersendat-sendat saya mengucapkan: "Jangan tinggalkan saya, Din! Jangan tinggakan saya seorang diri......"
Hal inilah yg terulang dan teringat kembali, bagaimana sakitnya perasaan dan hati saya di tinggal oleh seorang sobat karib. Dengan air mata terlinang saya menyanyikan lagu: "What we have a friend in Jesus!"
Selamat jalan Ben!
A brother may not be a friend, but a friend will always be a brother.
YOHANES 15:13
"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."
http://www.facebook.com/group.php?gid=132740644586
Bagaimana kalau Anda di tinggal mati oleh sahabat karib Anda?
Tempat dimana Anda bisa berbagi suka maupun duka.
Hal inilah yg terjadi pada saat ini dengan diri saya, sobat karib saya, Ben kemarin telah meninggal dunia dalam usia 46 th, karena penyakit kanker.
Hal ini mengingatkan kembali ketika saya di tinggal mati oleh si Udin.
Sejak usia 2 th saya telah di tinggal ayah, karena ia ditawan oleh tentara Jepang. Ibu harus berkerja keras untuk bisa membiayai hidup anak-anaknya.
Ibu sering melakukan puasa, karena tidak cukup makanan dirumah, bahkan kamipun sering tidur dengan perut lapar.
Hal inilah yg mendorong saya untuk minggat dari rumah, karena ingin meringankan bebannya Ibu. Padahal waktu itu usia saya baru 6 th dengan rasa berat hati dan air mata terlinang saya berangkat meninggakan kampung halaman dengan tujuan pergi ke kota besar Bandung, karena ingin mencoba mencari nafkah sendiri
Saya berangkat berdua dengan sobat karib saya si Udin yg usianya 3 th lebih tua daripada saya. Ber-jam-jam kami berjalan kaki seharian tanpa makan, sedangkan uang tidak kami miliki, satu-satunya harta yang kami miliki ialah sehelai baju yang melekat dibadan kami.
Karena sudah tidak tertahankan lagi, saya mengusulkan kepada si Udin untuk mencuri buah-buahan di kebun orang, tetapi si Udin walaupun ia anak yatim, ia sangat taat sekali kepada agama, ia melarang saya untuk mencuri, ia bilang lebih baik kita mengemis daripada mencuri.
Kami melewati satu gedung besar, dan kami berpikir disinilah kita bisa mengemis untuk memohon sesuap nasi, tetapi belum saja kami bisa masuk ke halaman rumah, kami telah dikejar oleh anjing sipemilik rumah, kami lari terbirit-birit, tetapi dengan kaki yg masih kecil, saya belum bisa berlari cepat, sehingga saya jatuh tersungkur dan anjing menggigit saya. Akhirnya si Udin datang melindungi dan menghalau anjing tersebut.
Hujan telah turun dgn deras, badan kami menggigil kedinginan, karena telah tak tertahankan lagi, kami mencari makan di tempat sampah, ternyata disitu masih ada sisa sepotong roti kecil, dan beberapa genggam nasi.
Karena badan saya telah lemah lunglai apalagi telah digigit anjing, si Udin memberikan roti maupun nasi tersebut semuanya untuk saya, makanlah ia bilang, karena saya lagi puasa, walaupun kenyataannya tidaklah demikian, tetapi ia mengikhlaskannya untuk saya.
Malam hari itu kami tidur di emperan rumah orang, tepatnya di depan sebuah kelenteng. Malam-malam saya terbangun, karena saya mendengar si Udin mengeluh kesakitan, badannya menggigil, tak satu katapun bisa ia ucapkan tetapi matanya kelihatan sayu.
Saya mengetahui ia sakit, karena lapar, ia sudah tidak makan sejak lebih dari dua hari, dan bagian makanannya selalu diberikan kepada saya, sehingga badannya menjadi sedemikian lemahnya.
Dari luar kelenteng masih kelihatan cahaya api lilin remang-remang diatas meja sesajen, tanpa pikir panjang saya memanjat pagar dan pintu kelenteng untuk bisa masuk ke dalam, akhirnya saya berhasil mencuri sesajen berupa dua potong kueh. Saya berlari kepada si Udin cepat-cepat untuk memberikannya kepada dia, karena saya merasa takut sekali kehilangan dia.
Ketika saya tiba, saya berusaha memeluk badannya si Udin yang gemetaran dan mencoba menyuapkan kueh ke dalam mulutnya, tetapi rupanya telah terlambat. Sang Pencipta telah memanggil dia balik kepangkuan-Nya.
Apakah Anda bisa membayangkan betapa perasaan seorang bocah berusia 6 th yang di tinggal mati oleh kawan dan sobat satu-satunya yg pada saat itu tidak memiliki siapapun juga, karena jauh dari kampung halaman?
Bagaimana perasaan Anda apabila sobat karib Anda meninggal dalam pelukan tangan Anda?
Dibawah hujan rintik-rintik dengan badan menggigil kedinginan, saya menangis terseduh-seduh. Saya mendekap badannya si Udin erat-erat dan dengan suara tersendat-sendat saya mengucapkan: "Jangan tinggalkan saya, Din! Jangan tinggakan saya seorang diri......"
Hal inilah yg terulang dan teringat kembali, bagaimana sakitnya perasaan dan hati saya di tinggal oleh seorang sobat karib. Dengan air mata terlinang saya menyanyikan lagu: "What we have a friend in Jesus!"
Selamat jalan Ben!
A brother may not be a friend, but a friend will always be a brother.
YOHANES 15:13
"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."
http://www.facebook.com/group.php?gid=132740644586
Hidup=mengalami Masalah
Dalam hidup ini, sering kita mengalami yang namanya masalah. Tak jarang kita bertanya-tanya sendiri kog rasanya tidak putus-putusnya kita dirundung masalah. Lepas masalah yang satu, ehhh masalah yang lain datang.
Entah masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah cinta, masalah dengan teman, masalah dengan rekan kerja, dst. Hal yang sering tragis adalah makin kita berusaha untuk dekat dengan Tuhan, semakin banyak permasalahan datang. Lalu kemudian kita akan bertanya:
”Tuhan kog begini? Saya sudah mengikuti Engkau, tetapi mengapa masalah tidak habis-habis? Orang yang hidupnya seenaknya malah bisa nyaman, enak, tenang, kog saya yang sudah all out melakukan yang terbaik untuk Tuhan kog malah seperti ini?”
Anda tahu, inilah hal-hal yang perlu kita renungkan. Hidup esensinya adalah untuk mengalami. Sebenarnya apakah segala sesuatu itu masalah atau cara pandang kita yang keliru? Mengapa Tuhan mengizinkah adanya masalah dalam kehidupan kita? Mari kita tinjau satu persatu.
1. Masalah bukanlah masalah sampai Anda menyatakan hal tersebut sebagai masalah. Ini adalah masalah cara pandang dalam hidup. Masalah bisa ditinjau sebagai masalah atau justru dipandang sebagai kesempatan. Kesempatan untuk apa? Untuk lebih maju, dalam segala hal.
Ingat kasus Rasul Paulus. Ia yang tadinya adalah penganiaya umat Tuhan, menjadi berbalik 180 derajat karena dijamah Tuhan. Kalau Paulus terus-menerus menganggap bahwa masa lalunya adalah masalah, ia tidak akan bisa maju. Bagaimana bisa maju?
Saya yakin sangat tidak mudah baginya untuk berkarya. Mengapa? Coba Anda pikirkan, seorang pembunuh umat Tuhan yang sangat bersemangat tiba-tiba secara ekstrim malah mendukung Tuhan dan berkarya bagi Tuhan.
Secara manusiawi saya yakin orang-orang dan rekan-rekannya pasti akan tidak percaya, sangsi, bahkan mungkin takut. Bisa saja kan Paulus hanya berpura-pura bertobat untuk membasmi semua umat Tuhan. Hal ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9:21-22.
Akan tetapi Paulus tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Ia terus maju. Kita bisa baca dalam
Filipi 3:13-14: Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Luar biasa bukan? Kalau Paulus terus terikat dalam masa lalunya, kita tidak akan pernah membaca namanya dalam Alkitab. Dia menjadi seorang yang menyerahkan hidupnya untuk pekabaran karya keselamatan Kristus dan menjadi seorang rasul yang sangat militan. Sangat mengagumkan! Sesuatu bisa dipandang sebagai masalah atau dipandang sebagai suatu kesempatan untuk maju.
2. Seringkali yang terjadi saat kita fokus pada masalah, hanya itu yang dapat kita lihat. Bukannya memperoleh solusi yang diharapkan, malah memperumit sesuatu yang harusnya sederhana. Ilustrasinya begini: kita melihat satu titik di kejauhan yang sejajar letaknya dengan mata kita.
Bentuk titik itu adalah bulat. Pada saat kita melihat titik itu dari posisi yang lain dari dekat, ternyata itu bukanlah titik, tetapi bentuk silinder (pipa, tabung, dll). Tetapi karena kita melihat dari jauh dan sejajar dengan penampang alas slinder tersebut, yang kita lihat hanyalah bentuk titik.
Sama dengan saat kita fokus pada masalah, seolah-olah kita melihat kita melihat titik tersebut dari kejauhan. Tidak jelas, berkabut, terdistorsi, ya itulah yang terjadi. Alih-alih melihat pada solusinya dan letak permasalahan itu sesungguhnya (bentuk silinder), kita berfokus pada apa yang kita pikirkan tentang masalah itu (bentuk titik).
Pada saat kita mengarahkan pandangan pada Tuhan (analogi: saat kita mendekat untuk melihat titik tersebut lebih jelas) kita bisa melihat permasalahan tersebut secara lebih proporsional dan masuk akal, lebih obyektif dan berorientasi pada solusinya.
Tuhan sungguh-sungguh ingin kita menang atas persoalan dan Ia menjadi penghiburan bagi orang-orang yang dalam masalah.
Nahum 1:7: TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.
Arahkan pandangan kita senantiasa pada Tuhan.
Mazmur 26:3: Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.
3. Masalah digunakan Tuhan untuk mendekatkan setiap anaknya pada Dia. Ya, seringkali saat kondisi tenang-tenang atau baik-baik saja, kita jadi lupa pada Tuhan dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
Lihat pada Lukas 8:22-25 mengenai kisah angin ribut. Para murid Kristus juga mengalami hal ini. Mereka yang mayoritas adalah nelayan mengemudikan perahu dengan percaya diri saat kondisi baik-baik saja karena memang hal itulah yang mereka kerjakan sehari-hari.
Mengandalkan kemampuan, pengalaman, dan kehebatan pribadi. Dalam crita di Lukas 8:22-25, Tuhan dibuat tertidur. Baru saat badai datang, para murid panik dan membangunkan Yesus. Mereka sadar, badai adalah suatu masalah besar yang tidak mungkin mereka atasi sendiri. Tuhan terbangun dan seketika meredakan badai itu.
Ya hal ini sering kita lakukan, baik sadar maupun tidak sadar. Saat kita melakukan hal itu, kita mengabaikan Tuhan. Kalau menggunakan bahasa gaul yang sering digunakan sekarang ini, mungkin Tuhan akan berkata begini:
”Emangnya enak dicuekin?”
Hahahahah, just my naughty thought . Ia adalah Allah yang sosial, Allah yang suka akan relasi, suka akan hubungan. Ia menciptakan manusia karena Ia suka menjalin hubungan dengan kita. Begitu besar cinta-Nya pada kita sampai Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita.
Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Pantaskah kita mengabaikan Tuhan yang sudah begitu mengasihi kita? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.
4. Masalah adalah didikan dan gemblengan Tuhan.
Ibrani 12:5-6: Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Ya, jika kita telah setia dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan lalu masalah datang bertubi-tubi, ini berarti kita harus bersyukur. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita lebih naik lagi, ingin kita naik tingkat.
Seperti saat kita sekolah, kita tidak ingin terus di kelas satu SD terus bukan? Ya itulah yang terjadi. Masalah diizinkan Tuhan untuk menggembleng kita, menempa kita, membuat kita lebih maju lagi.
Bersyukurlah bila memang kita diberi banyak masalah, banyak benturan, banyak gesekan; karena itu berarti Tuhan ingin memurnikan kita. Banyak orang yang tidak menyenangkan? Bersukacitalah!
Amsal 27:17: Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Kita akan dibuat lebih baik lagi dengan adanya masalah.
5. Masalah merupakan proses pemurnian hati dan motivasi kita.
Yesaya 48:10: Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.
Seringkali kita melakukan segala sesuatu sepertinya untuk Tuhan, tetapi padahal untuk diri kita sendiri. Bisa juga kita melakukan sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh, Tuhan ingin kita lebih lagi dalam mengasihi Dia, dalam melayani Dia.
Ya seperti perak dan emas yang dimurnikan supaya memiliki nilai yang tinggi, demikian juga kita di matanya. Kita dimurnikan supaya layak di mata-Nya. Pemurnian pertama malah dilakukan-Nya dengan darah-Nya sendiri, lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Pemurnian selanjutnya dilakukan-Nya dengan permasalahan hidup.
Sungguh kita harus bersyukur karena apapun juga yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak pernah sendiri. Tangannya selalu menopang kita.
Yesaya 59:1: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
Puji Tuhan. Jadi ada masalah? It’s OK .
Hidup = mengalami!
Amin
http://www.facebook.com/group.php?gid=83141696722
Entah masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah cinta, masalah dengan teman, masalah dengan rekan kerja, dst. Hal yang sering tragis adalah makin kita berusaha untuk dekat dengan Tuhan, semakin banyak permasalahan datang. Lalu kemudian kita akan bertanya:
”Tuhan kog begini? Saya sudah mengikuti Engkau, tetapi mengapa masalah tidak habis-habis? Orang yang hidupnya seenaknya malah bisa nyaman, enak, tenang, kog saya yang sudah all out melakukan yang terbaik untuk Tuhan kog malah seperti ini?”
Anda tahu, inilah hal-hal yang perlu kita renungkan. Hidup esensinya adalah untuk mengalami. Sebenarnya apakah segala sesuatu itu masalah atau cara pandang kita yang keliru? Mengapa Tuhan mengizinkah adanya masalah dalam kehidupan kita? Mari kita tinjau satu persatu.
1. Masalah bukanlah masalah sampai Anda menyatakan hal tersebut sebagai masalah. Ini adalah masalah cara pandang dalam hidup. Masalah bisa ditinjau sebagai masalah atau justru dipandang sebagai kesempatan. Kesempatan untuk apa? Untuk lebih maju, dalam segala hal.
Ingat kasus Rasul Paulus. Ia yang tadinya adalah penganiaya umat Tuhan, menjadi berbalik 180 derajat karena dijamah Tuhan. Kalau Paulus terus-menerus menganggap bahwa masa lalunya adalah masalah, ia tidak akan bisa maju. Bagaimana bisa maju?
Saya yakin sangat tidak mudah baginya untuk berkarya. Mengapa? Coba Anda pikirkan, seorang pembunuh umat Tuhan yang sangat bersemangat tiba-tiba secara ekstrim malah mendukung Tuhan dan berkarya bagi Tuhan.
Secara manusiawi saya yakin orang-orang dan rekan-rekannya pasti akan tidak percaya, sangsi, bahkan mungkin takut. Bisa saja kan Paulus hanya berpura-pura bertobat untuk membasmi semua umat Tuhan. Hal ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9:21-22.
Akan tetapi Paulus tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Ia terus maju. Kita bisa baca dalam
Filipi 3:13-14: Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Luar biasa bukan? Kalau Paulus terus terikat dalam masa lalunya, kita tidak akan pernah membaca namanya dalam Alkitab. Dia menjadi seorang yang menyerahkan hidupnya untuk pekabaran karya keselamatan Kristus dan menjadi seorang rasul yang sangat militan. Sangat mengagumkan! Sesuatu bisa dipandang sebagai masalah atau dipandang sebagai suatu kesempatan untuk maju.
2. Seringkali yang terjadi saat kita fokus pada masalah, hanya itu yang dapat kita lihat. Bukannya memperoleh solusi yang diharapkan, malah memperumit sesuatu yang harusnya sederhana. Ilustrasinya begini: kita melihat satu titik di kejauhan yang sejajar letaknya dengan mata kita.
Bentuk titik itu adalah bulat. Pada saat kita melihat titik itu dari posisi yang lain dari dekat, ternyata itu bukanlah titik, tetapi bentuk silinder (pipa, tabung, dll). Tetapi karena kita melihat dari jauh dan sejajar dengan penampang alas slinder tersebut, yang kita lihat hanyalah bentuk titik.
Sama dengan saat kita fokus pada masalah, seolah-olah kita melihat kita melihat titik tersebut dari kejauhan. Tidak jelas, berkabut, terdistorsi, ya itulah yang terjadi. Alih-alih melihat pada solusinya dan letak permasalahan itu sesungguhnya (bentuk silinder), kita berfokus pada apa yang kita pikirkan tentang masalah itu (bentuk titik).
Pada saat kita mengarahkan pandangan pada Tuhan (analogi: saat kita mendekat untuk melihat titik tersebut lebih jelas) kita bisa melihat permasalahan tersebut secara lebih proporsional dan masuk akal, lebih obyektif dan berorientasi pada solusinya.
Tuhan sungguh-sungguh ingin kita menang atas persoalan dan Ia menjadi penghiburan bagi orang-orang yang dalam masalah.
Nahum 1:7: TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.
Arahkan pandangan kita senantiasa pada Tuhan.
Mazmur 26:3: Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.
3. Masalah digunakan Tuhan untuk mendekatkan setiap anaknya pada Dia. Ya, seringkali saat kondisi tenang-tenang atau baik-baik saja, kita jadi lupa pada Tuhan dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
Lihat pada Lukas 8:22-25 mengenai kisah angin ribut. Para murid Kristus juga mengalami hal ini. Mereka yang mayoritas adalah nelayan mengemudikan perahu dengan percaya diri saat kondisi baik-baik saja karena memang hal itulah yang mereka kerjakan sehari-hari.
Mengandalkan kemampuan, pengalaman, dan kehebatan pribadi. Dalam crita di Lukas 8:22-25, Tuhan dibuat tertidur. Baru saat badai datang, para murid panik dan membangunkan Yesus. Mereka sadar, badai adalah suatu masalah besar yang tidak mungkin mereka atasi sendiri. Tuhan terbangun dan seketika meredakan badai itu.
Ya hal ini sering kita lakukan, baik sadar maupun tidak sadar. Saat kita melakukan hal itu, kita mengabaikan Tuhan. Kalau menggunakan bahasa gaul yang sering digunakan sekarang ini, mungkin Tuhan akan berkata begini:
”Emangnya enak dicuekin?”
Hahahahah, just my naughty thought . Ia adalah Allah yang sosial, Allah yang suka akan relasi, suka akan hubungan. Ia menciptakan manusia karena Ia suka menjalin hubungan dengan kita. Begitu besar cinta-Nya pada kita sampai Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita.
Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Pantaskah kita mengabaikan Tuhan yang sudah begitu mengasihi kita? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.
4. Masalah adalah didikan dan gemblengan Tuhan.
Ibrani 12:5-6: Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Ya, jika kita telah setia dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan lalu masalah datang bertubi-tubi, ini berarti kita harus bersyukur. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita lebih naik lagi, ingin kita naik tingkat.
Seperti saat kita sekolah, kita tidak ingin terus di kelas satu SD terus bukan? Ya itulah yang terjadi. Masalah diizinkan Tuhan untuk menggembleng kita, menempa kita, membuat kita lebih maju lagi.
Bersyukurlah bila memang kita diberi banyak masalah, banyak benturan, banyak gesekan; karena itu berarti Tuhan ingin memurnikan kita. Banyak orang yang tidak menyenangkan? Bersukacitalah!
Amsal 27:17: Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Kita akan dibuat lebih baik lagi dengan adanya masalah.
5. Masalah merupakan proses pemurnian hati dan motivasi kita.
Yesaya 48:10: Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.
Seringkali kita melakukan segala sesuatu sepertinya untuk Tuhan, tetapi padahal untuk diri kita sendiri. Bisa juga kita melakukan sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh, Tuhan ingin kita lebih lagi dalam mengasihi Dia, dalam melayani Dia.
Ya seperti perak dan emas yang dimurnikan supaya memiliki nilai yang tinggi, demikian juga kita di matanya. Kita dimurnikan supaya layak di mata-Nya. Pemurnian pertama malah dilakukan-Nya dengan darah-Nya sendiri, lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Pemurnian selanjutnya dilakukan-Nya dengan permasalahan hidup.
Sungguh kita harus bersyukur karena apapun juga yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak pernah sendiri. Tangannya selalu menopang kita.
Yesaya 59:1: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
Puji Tuhan. Jadi ada masalah? It’s OK .
Hidup = mengalami!
Amin
http://www.facebook.com/group.php?gid=83141696722
Sabtu, 28 November 2009
PELUKAN KASIH TUHAN
Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang harus dia tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi, karena begitu besar keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada di balik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalannya. Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak belukar yang sangat lebat dan penuh duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu.
Pikir pengembara itu “Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjal anan ini.”
Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu.
Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam hati “Betapa hebatnya aku.
Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku.”
Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya “Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka.
Tapi aku tetap harus melewatinya.”
Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja.
Sekali lagi ia berkata dalam hati : “Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku.”
Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain dia harus melewatinya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya : “Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak itu. Aku harus melewatinya.”
Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia…tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah.
“Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku.”
Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di puncak gunung itu. Betapa sukacitanya ia melihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk memandanginya.
Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya.
Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : “Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangan yang ada tadi? Tidak bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya?”
Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih : “Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini, mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah. Ingatkah engkau kembali padaKU?”
Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan.
Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita.
Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya bekerja dalam hidup kita?
http://www.facebook.com/group.php?gid=89995324881
Pikir pengembara itu “Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjal anan ini.”
Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu.
Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam hati “Betapa hebatnya aku.
Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku.”
Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya “Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka.
Tapi aku tetap harus melewatinya.”
Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja.
Sekali lagi ia berkata dalam hati : “Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku.”
Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain dia harus melewatinya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya : “Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak itu. Aku harus melewatinya.”
Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia…tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah.
“Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku.”
Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di puncak gunung itu. Betapa sukacitanya ia melihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk memandanginya.
Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya.
Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : “Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangan yang ada tadi? Tidak bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya?”
Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih : “Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini, mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah. Ingatkah engkau kembali padaKU?”
Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan.
Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita.
Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya bekerja dalam hidup kita?
http://www.facebook.com/group.php?gid=89995324881
Kaulah Segalanya Bagiku
Tuhan Yesus
Saat aku MENYUKAI seorang TEMAN
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah AKHIR
Sehingga aku tetap bersama YANG TAK PERNAH BERAKHIR
Tuhan Yesus
Ketika aku MERINDUKAN seorang KEKASIH
RINDUkanlah aku kepada dia yang RINDU CINTA SEJATIMU
Agar keRINDUanku terhadap-MU semakin BERTAMBAH
Tuhan Yesus
Jika aku hendak MENCINTAI seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang MENCINTAIMU
Agar bertambah KUAT CINTAKU padaMU
Tuhan Yesus
Ketika aku sedang JATUH CINTA jagalah CINTA itu
Agar tidak meLEBIHi cintaku PADAMU
Tuhan Yesus
Ketika aku berucap AKU JUGA CINTA PADAMU
Biarlah kukatakan kepada yang HATINYA TERPAUT padaMU
Agar aku TAK JATUH dalam CINTA yang bukan KARENAMU
Tuhan Yesus
Ketika aku berikrar AKU AKAN SETIA sampai maut memisahkan
Biarlah kuNYATAkan kepada dia yang MENGGENAPKAN visiMU atas hidupku
MENCINTAI seseorang BUKANLAH APA APA
DICINTAI seseorang adalah SESUATU
DICINTAI oleh orang yang KAU CINTAI sangatlah BERARTI
Tapi lebih dari yang itu ingatlah DICINTAI oleh SANG PENCIPTA adalah SEGALANYA
Miliki kerinduan untuk MENCINTAI YESUS lebih dari
SEGALA yang ada padamu TETAP SETIA sampai pada akhirnya
Aku.. Untuk.. MU
http://www.facebook.com/group.php?gid=83141696722
Saat aku MENYUKAI seorang TEMAN
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah AKHIR
Sehingga aku tetap bersama YANG TAK PERNAH BERAKHIR
Tuhan Yesus
Ketika aku MERINDUKAN seorang KEKASIH
RINDUkanlah aku kepada dia yang RINDU CINTA SEJATIMU
Agar keRINDUanku terhadap-MU semakin BERTAMBAH
Tuhan Yesus
Jika aku hendak MENCINTAI seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang MENCINTAIMU
Agar bertambah KUAT CINTAKU padaMU
Tuhan Yesus
Ketika aku sedang JATUH CINTA jagalah CINTA itu
Agar tidak meLEBIHi cintaku PADAMU
Tuhan Yesus
Ketika aku berucap AKU JUGA CINTA PADAMU
Biarlah kukatakan kepada yang HATINYA TERPAUT padaMU
Agar aku TAK JATUH dalam CINTA yang bukan KARENAMU
Tuhan Yesus
Ketika aku berikrar AKU AKAN SETIA sampai maut memisahkan
Biarlah kuNYATAkan kepada dia yang MENGGENAPKAN visiMU atas hidupku
MENCINTAI seseorang BUKANLAH APA APA
DICINTAI seseorang adalah SESUATU
DICINTAI oleh orang yang KAU CINTAI sangatlah BERARTI
Tapi lebih dari yang itu ingatlah DICINTAI oleh SANG PENCIPTA adalah SEGALANYA
Miliki kerinduan untuk MENCINTAI YESUS lebih dari
SEGALA yang ada padamu TETAP SETIA sampai pada akhirnya
Aku.. Untuk.. MU
http://www.facebook.com/group.php?gid=83141696722
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)